Peringatan 100 tahun Kebangkitan nasional disaksikan dengan kepiluan. Kekuasan neoliberal sudah menguasai bangsa ini.
Proses penjualan dan penghambaan pada asing telah merambah ke semua lini perekonomian dan sumber daya alam bangsa Indonesia. Pasokan solar dan batubara PLN oleh Shell dan swasta, hadir di depan mata. Ada 3 juta tabung gas akan dipasok China, dan perusahaan negara Krakatau Steel siap diserahkan ke Mittal.
Masihkah bangsa ini mandiri?????. Kondisi ini diperburuk lagi oleh keadaan 40 BUMN yang siap dijual, padahal BUMN adalah yang mengelola hajat hidup orang banyak. Jika dijual, dimana posisi Negara yang jelas menguasai hajat hidup orang banyak itu??? Jika gak mampu, mendingan rakyat memilih, dibiarkan saja sumber alam itu untuk generasi berikutnya.
Tambang NNT Batu hijau untuk Newmont dan swasta nasional baik BUMN dan BUMD harus puas hanya menjadi penonton. Cepu diserahkan bagi kejayaan Exxon, dan Natuna juga dijadikan sesajen untuk Exxon. Pada lingkup Jepara yang memiliki Kepulauan Karimunjawa yang molek bak perawan seksi, jangan-jangan juga akan dijadikan pulau dagangan semacam wanita penghibur bagi bangsa asing.
Kemandirian???? Itu juga yang mestinya kita gugat pada Persijap yang lagi-lagi belum mampu melepaskan kerangkeng dan mitos bahwa orang asing lebih pintar daripada kita sendiri. Kapan Persijap bias mandiri kalo APBN yang berjumlah 10 milyar itu justru untuk mayoran bagi pemain asing…..
Rakyat, menantikan bukti dari pemerintah, bahwa bangsa ini bisa bangkit dan bukan menjadi bangkrut. Kita ingin percaya pemerintah akan membawa kebangkitan bagi bangsa ini. Tapi, penggelapan pajak oleh Adaro, Asian Agri, Indosat bebas tanpa proses hukum. Belum lagi obligor BLBI pengemplang ratusan triliun uang rakyat masih hidup bebas dan semakin kaya. Bagaimana bisa percaya pemerintah
Sedih melihat rakyat dan kita sendiri yang tampaknya sudah cukup puas dengan pidato, perayaan-perayaan dan retorika dari para tirani penjual bangsa ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar