Rabu, 23 Juli 2008

Bangkitlah Indonesiaku!

bendera indonesia

Bangkit. Bukan Daniel Subangkit, sahabat saya yang kebetulan lahir pada hari kebangkitan nasional tetapi kata ”bangkit” itu sendiri. Apa definisi dari kata bangkit?

Beberapa hari yang lalu, kita memperingati 100 tahun hari kebangkitan nasional. Banyak event diselenggarakan. Dari yang kecil sampai ke event besar. Ada yang menjadikannya hanya sebagai ajang promosi, tetapi banyak juga yang dibuat untuk kembali mengingatkan dan memberi semangat agar kita, bangsa Indonesia, bangkit.

Jadi apa itu bangkit? Bangkit itu bangun, mencoba kembali berdiri dari keterpurukan. Apabila kita diajak untuk kembali bangkit, maka perlu kita sadari bahwa selama ini kita terpuruk. Bangsa kita sedang berada di titik yang rendah, yang banyak sekali dilanda masalah, dan masih perlu banyak sekali perbaikan sana-sini.

Aku disini bukan untuk membahas masalah-masalah itu, karna aku yakin, tanpa aku perlu menambahkan, sudah banyak sekali yang membahas masalah-masalah bangsa ini. Bahkan aku dulu pernah mendengar seseorang berkata bahwa ”bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka sekali mengejek dirinya sendiri”.

Tapi aku ingin berbagi sedikit pengalaman yang kemarin aku dapatkan sewaktu ikut rombongan ESQ Jogja pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara ”100 Tahun Kebangkitan Nasional, Menuju Indonesia Emas 2020”. Banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan disana.

Acara itu sendiri diadakan selama dua hari, tanggal 19-20 Mei. Dan acara puncaknya adalah hari kedua tanggal 20 Mei. Dimulai dengan pagi harinya, kita mengadakan gerak jalan yang dihadiri, subahanallah, sekitar 20ribu orang dari seluruh Indonesia. Dan juga dihadiri oleh beberapa tokoh negara seperi Pak Menpora, Adyaksa Dault. Dan juga banyak sekali acara lainnya yang tak kalah menarik. Selain acara yang diselenggarakan oleh FKA ESQ, ada beberapa acara yang tak kalah besar yang diselenggarakan di Jakarta. Belum lagi di kota-kota lain di Indonesia.

Yang perlu dilihat disini bukan seberapa besar acara itu dan seberapa banyak orang ikut, tapi antusiasme yang diperlihatkan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang bersemangat untuk memperbaiki negeri ini. Ini adalah salah satu indikator ”kegelisahan nasionalisme” yang dulu juga dirasakan pemuda-pemuda Indonesia sebelum tahun 1908.

Pernah dalam satu ketika, aku melihat orang yang tepuk tangannya semangat sekali sewaktu acara indoor berlangsung. Aku ingin tertawa, karna merasa tak ada yang lucu dan tak ada yang perlu untuk diberi tepuk tangan karena kebetulan saat itu tak ada orang lain yang bertepuk. Tapi saat itu juga aku langsung tersadar, ’Wah, orang ini semangat sekali’. Aku langsung merasa malu sudah menertawakannya tadi.

Optimisme. Itulah yang ditunjukkan orang itu. Dia tak peduli orang menertawakan dia. Dia mengikuti acara dengan semangat, fokus dan mendengarkan dengan semangat juga. Aku ingat perkataan Pak Ary, yang (kira-kira seperti ini) mengatakan bahwa orang mungkin akan menertawakan kita, yang bermimpi bisa mewujudkan Indonesia Emas. Tidak mungkin bisa! Tapi kita tak peduli. Yang kita tau, kita terus berusaha. Berusaha dan berusaha. Berusaha melakukan yang terbaik. Andai perjuangan kita terhenti, nanti ada teman-teman kita dan generasi penerus kita yang melanjutkannya.

Apakah menurutku Indonesia yang lebih baik akan terwujud? Ya, InsyaAllah. Kita akan terus berusaha. Karna aku yakin, bukan cuma Pak SBY, Pak Ary Ginanjar, pemimpin-pemimpin yang baik dan aktivis-aktivis yang memimpikan hal ini, tapi juga aku dan kamu.

Ayo sahabat, kita berbuat. Mari kita perbaiki mulai dari diri kita. Manusia tak ada yang sempurna tapi jangan pernah berhenti berusaha menyempurnakan dirimu. Kita berbenah dan terus berbenah. Kita junjung nilai-nilai yang merupakan fitrah kita sebagai manusia. Kita berusaha untuk terus menaati sunatullah. Demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Amin.

Tidak ada komentar: